site stats free
 

Boikot Film Dilan 1991, Perlu Ga Sih?

Pada saat akan launching film DILAN 1991, ada beberapa orang yang sengaja datang untuk melakukan demo agar film Dilan tidak ditayangkan di bioskop. Menurut kabar, mereka melakukan boikot dengan alasan bahwa film Dilan mengajari orang boleh pacaran, ikut geng motor dan suka berantem.

Anehnya, kemana saja mereka saat novel Dilan laris dan booming disukai remaja Indonesia? Kenapa dulu tidak demo supaya novelnya untuk ditarik dari peredaran. Atau mungkin mereka sendiri sudah mengkoleksi dan baca novelnya sehingga mengetahui film Dilan isinya cuma geng motor dan berantem doang?

Nah penulis mencoba melihat cara pandang dari sisi lain tentang novel dan film trilogi DILAN ini ya. Tenang, di artikel ini tidak akan ada niat menyudutkan agama tertentu. Kalau ada, tentunya tim editor tidak akan mengijinkan untuk tampil di blog ini.

Boikot Film Dilan 1991, Perlu Ga Sih?

Dilan 1991

Apa kalian pernah mengetahui bahwa ada novel (karya sastra) dan sinetron SITI NURBAYA? Betapa bangganya kita sinetron tersebut juga ditayangkan di negara lain dan memikat warganya. LALU pernahkah kalian protes dan demo bahwa film sinetron itu akan membuat anak muda suka pacaran? Atau bahkan protes bahwa sinetron tersebut membuat anak muda suka kawin paksa?

GA ADA yang mau jika sudah besar kawin paksa.
GA ADA yang mau jika sudah tua jadi Datuk Maringgih.

Nah, lantas apa kalian juga mengetahui bahwa di dalam novel (karya sastra) dan film DILAN tersebut juga ada tokoh MILEA yang dengan perlahan menyadarkan Panglima Tempur untuk tidak ikut geng dan berantem lagi. Apa kalian juga mengetahui cara MILEA menghadapi anggota geng motornya? Rebut hati DILAN, rebut hati teman-temannya agar mereka sadar bahwa geng motor dan berantem itu ga guna banget.

Sementara pada kenyataannya, jika ada geng motor yang berulah, kalian cuma koar-koar penjarakan saja, tembak saja pak polisi, atau bakar saja rame-rame. TANPA mampu memberikan solusi terbaik untuk mereka. Apa kalian bisa melakukan hal seperti MILEA, meluluhkan hati dan menyadarkan Panglima Tempur serta anggota geng sehingga sekarang berubah menjadi baik?

GA ADA yang mau terlahir jadi anak nakal.
GA ADA yang mau terlahir jadi penjahat.
GA ADA yang mau punya anak nakal dan jadi penjahat.
Lantas mampukah kita peduli dan membuat mereka menjadi lebih baik?
Atau kita hanya bisa update status FB, demo dan menyalahkan pendidikan sekolah, TV, Film, dan Pemerintah saja?

GA USAH MIKIR! kata cak Monthonk.

Be positif thinking, guys. Semua orang bisa menjadi kritikus dadakan, Apalagi melakukan demo yang ujung-ujungnya malah bikin keributan dan rusuh. Tapi bisakah kita nikmati dan hargai karya sastra anak bangsa dan turut bangga jika penonton filmnya melampaui film box office dari Amerika Serikat.

Bahkan Gubernur Ridwan Kamil memberikan apresiasi dengan membuat tematik pojok Dilan berisi perpustakaan dengan karya sastra dari Jawa Barat dan lainnya di sebuah taman. Orang malah ribut dan protes di sosial media namun beruntung warga Jabar tetap santun dan tidak demo, karena mengganggap tidak perlu membuat taman Dilan dan dikhawatirkan hanya jadi tempat pacaran anak remaja saja. Padahal tujuan sebenarnya pak RK tidak membuat taman Dilan ya. Selamat menonton!

Author - Februari 27, 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

javascript hit counter